Pendidikan?

Source: google.images (http://indokampus.com/wp-content/uploads/2016/10/anak-sd-diberi-pelatihan-5741507f9b9373d00688abd6.jpg)
Saat berpikir kedepan saya memikirkan sesuatu hal yang sedikit mengganjal. Hal ini sangat sering dikhawatirkan oleh para orang tua kepada anak-anaknya, yaitu pendidikan. Pendidikan di negara kita ini menjadi sebuah acuan dasar yang dianggap sangat penting dalam komponen kehidupan seseorang. Akademis menjadi patokan yang saklek untuk menilai anak tersebut masuk ke dalam kriteria pintar atau pun tidak. Nilai-nilai di dalam rapor menjadi acuan hampir setiap orang tua untuk mendefinisikan anak mereka "pintar" maupun "bodoh". Pertanyaannya adalah apakah nilai-nilai dirapor itu benar-benar merupakan perwakilan minat, bakat atau kepintaran individu tersebut. Jawabannya tentu tidak! Karena manusia ini sangat beragam. 

Ada yang lahir dengan bakat sebagai seorang pelukis yang sangat kecil kemungkinan mendapatkan nilai A pada pelajaran Biologi, ada pula yang terlahir sebagai penyair yang hampir tidak mungkin dapat menguasai pelajaran Matematika dengan baik dan banyak hal lainnya yang tidak dapat dikuasai hanya dengan berpatokan pada pelajaran akademis tersebut.

Sayangnya, tidak banyak orang tua yang menyadari bahwa setiap anak terlahir dengan keunikan dan kekhasan-nya masing-masing. Setiap anak memiliki jalannya sendiri yang tidak akan sama dengan kakak atau bahkan adiknya. Lantas, bagaimana dengan anak-anak ini? Anak-anak yang merasa dirinya bukanlah peneliti, akuntan, insinyur, dokter, pilot atau polisi. Bagaimana dengan anak-anak yang memiliki bakat berbeda dari kebanyakan? Apakah kemudian mereka tersingkir? Apakah sistem pendidikan kita tidak terlalu menekan? Benarkah pendidikan selama ini membentuk seorang anak menjadi homogen? 

Demi menjadikan anaknya sebagai seorang peneliti, terkadang orang tua sampai mati-matian memberikan les matematika, fisika, kimia atau biologi kepada anaknya yang justru lebih tertarik pada musik. Ada juga orang tua yang memaksakan anaknya untuk mengambil jurusan IPA agar anaknya kelak bisa menjadi dokter, padahal anaknya ingin menjadi akuntan. Anak-anak yang waktunya telah habis belajar di sekolah terkadang masih harus dihabiskan lagi dengan les bermacam-macam. Bahkan belum lagi ditambah dengan PR yang harus dikerjakan. Adakah anak-anak ini memiliki waktu untuk beristirahat? Bermain? atau bahkan berpikir untuk memilih cita-citanya?

Anak-anak inilah yang secara tidak sadar telah dibentuk oleh orang tua dan sistem pendidikannya untuk lupa akan minat dan bakatnya. Anak-anak ini dikondisikan agar dapat menjadi budak dalam sistem kapitalis nantinya, dengan iming-iming menjadi manager diperusahaan X. Mereka dibentuk sedemikian rupa untuk lupa akan unsur kediriannya. Bahkan nantinya, setelah mereka dewasa, mereka hanya akan duduk di kantor dari pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore. Itukah kehidupan yang dibayangkan oleh orang tua mereka saat ini? 

Apakah menjadi seorang manajer dari Perusahaan X, Insiyur, dokter, pilot atau polisi menjadi sebuah kebanggaan yang hakiki dari orang tua? Apakah dengan pencapaian tersebut telah membuat mereka berhasil sebagai orang tua? Bukankah menjadi orang tua bukanlah sebuah kompetisi yang harus dipersaingkan? Anak adalah manusia. Itu adalah hal yang sangat mudah untuk diingat, namun luar biasa sulit untuk diterapkan. Anak adalah manusia yang memiliki kediriannya sendiri, memiliki cita-citanya sendiri dan tujuan hidupnya. Anak bukanlah bagian dari harapan-harapan orang tua. Anak punya hak untuk menentukan kapan dia mau belajar, apa yang mau dipelajarinya, apakah dia mau ikut les atau tidak, atau kapan dia akan menentukan cita-citanya. Anak bukan tempat orang tua meletakkan harapan setinggi-tingginya dengan menekan masa kecil mereka. Biarkan anak dewasa tanpa penyesalan akan masa kecilnya yang terabai. Biarkan anak tertawa dan merasa bahagia meski mereka memilih menjadi penyair ketimbang insinyur. Biarkan mereka dengan bangga mengatakan bahwa mereka ingin menjadi penulis ketimbang dokter. Bukankah kita hidup jauh lebih bermakna ketika berbeda? Bukankah perbedaan yang ada kini telah menyatukan kita? Pesan saya untuk orang tua, jangan pernah anggap anak sebagai aset yang berharga, karena jika aset tersebut hilang maka kita akan depresi. Satu hal yang paling penting yaitu jangan pernah gadaikan masa depan anakmu karena anakmu itu bukan aset namun manusia.

Komentar

Postingan Populer